Ini hanya sebuah cerita. Cerita tentang obrolan di dunia maya. Sebuah percakapan pendek, yang tanpa sengaja tiba-tiba terjadi:
Fulanah (F): Saya sempat membaca status anda di facebook, “Perempuan seringkali terjebak dalam mitos kecantikan”. Bahkan di page catatan, tulisan-tulisan anda juga bicara tentang perempuan. Apa anda senang membicarakan perempuan?
Ach. Qusyairi Nurullah (AQN): Saya tidak hanya senang bicara perempuan, tapi juga “penggemar” perempuan. Perempuan memiliki daya magnetik yang amat tinggi untuk selalu dilihat, dinikmati, apa lagi hanya diperbincangkan. Saya seperti bersepakat dengan Soe Hok Gie, bahwa bicara tentang perempuan hanyalah obrolan kosong yang mengasikkan.
F: Apa anda pernah pacaran?
AQN: Heheee… saya tidak dibolehin pacaran sama ibu. Karenanya saya tidak berani berpacaran. Pesan utama Ibu sebelum saya berangkat mondok: “Ingat, jangan sekali-kali bermain perempuan. Jauhi perempuan, sebab ia akan merusak cita-citamu, merusak perjalananmu menuntut ilmu”.
F: Tidak pernah pacaran, berarti juga tidak pernah mengalami rasa cinta?
AQN: Ah, tidak juga! Saya dulu pernah “gila” pada seseorang, tapi gak pacaran. Karena ibu melarangnya.
F: Waaah... berarti anda termasuk anak yang shaleh.
AQN: Tidak juga, karena ketundukan saya pada ibu hanya karena berharap surga. Bukankah Surga berada di bawah telapak kaki ibu, kata Nabi. Andai saja nabi tidak bersabda seperti itu, mungkin saya durhaka pada ibu. Ha ha ha...
F: Anda lebih sayang Ibu daripada ayah?
AQN: Ya! Saya lebih sayang ibu. Entah kenapa, bila disuruh memilih di antara keduanya, rasa sayang dan empati saya lebih banyak ke ibu.
Dulu, saat kecil saya sering kali tidak bisa tidur tanpa ibu. Bila mau mandi, minta dimandiin ke ibu. Mau makan, minta suap sama ibu. Mau belajar, belajarnya harus ditemani ibu. Bahkan saat sakit, saya minta untuk ditemani ibu. Pokoknya serba ibu. Mungkin ibu paham betul tentang statusnya sebagai seorang perempuan, yang—katanya—hanya berputar di tiga tempat, di kasur, di sumur, dan di dapur. Karena itu, tanpa mengeluh sedikitpun, ibu merawatku dengan telaten, penuh kesabaran dan kasih sayang, hingga saya tumbuh menjadi laki-laki dewasa.
F: Hmmm… saya sungguh salut pada kesabaran ibu anda, tapi saya sangat tidak suka cara pandang beliau terhadap perempuan. Masak perempuan dianggap sebagai penghambat laki-laki dalam mencari ilmu. Ini gak fair namanya. Sebab, laki-laki juga menjadi racun dan penghambat bagi perempuan yang sedang mencari ilmu.
AQN: Ha-ha-ha… ya, dulu saya juga punya pikiran seperti itu. Terkesan ada diskriminasi di dalamnya. Tetapi saya tidak yakin ibu berpandangan sampai sejauh itu. Sebab ketika saya bercerita tentang perasaan hati saya pada seseorang, ibu hanya tersenyum. Tidak ada tanda kemarahan sedikitpun di wajahnya. Kesabaran, ketabahan, serta ketenangan dalam menghadapi situasi inilah yang membuat saya semakin tidak percaya, ibu punya pandangan sepicik itu pada perempuan. Bahkan saat mendengar kabar, ada seorang bidan yang sedang praktek di desa saya suka pada ayah, ibu malah berkata ”Saya ikhlas, bila bapak mau menikah lagi”.
F: Lalu bagaimana dengan sekarang?
AQN: Nasehat ibu itu benar, perempuan sumber malapetaka.
F: Apa alasan anda berkata seperti itu?
AQN: Sederhana, karena perempuan sekarang berbeda dengan perempuan yang dulu, minimal yang sezaman dengan ibu. Perempuan hari ini sudah lupa pada—atau memang sengaja melupakan—tugasnya sebagai perempuan. Kebebasan perempuan untuk mendapatkan pendidikan menjadi alat legitimasi untuk bertingkah “liar”. Ironisnya, posisi perempuan di tiga tempat: kasur, sumur, dan di dapur, dianggap sesuatu yang melemahkan, bahkan mendiskreditkan perempuan dalam kehidupan sosial.
F: Penempatan perempuan ke dalam tiga ranah itu, terbukti telah ampuh membuat perempuan semakin tersudut dan tidak berdaya. Tidak memiliki kekuatan. Apa yang anda katakan, sepertinya mengamini bahwa perempuan adalah makhluk kedua setelah laki-laki.
AQN: Saya sepakat, kalau yang dimaksud ‘makhluk kedua’ itu, perempuan dicipta setelah laki-laki. Karena Hawa memang tercipta setelah Adam. Tapi saya tidak setuju bila penempatan perempuan ke dalam tiga tempat itu, dianggap ‘senjata’ untuk mengucilkan dan menganggap lemah perempuan.
F: Pernyataan satire, “perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi, karena tugasnya hanya di kasur, di sumur, dan di dapur”, berkembang pesat bahkan menjadi sebuah keyakinan sampai hari ini. Tidakkah ini merupakan tanda bahwa perempuan “disiksa” dan dimarginalkan?
AQN: Ada pemahaman yang salah, tentang posisi perempuan di ruang domestik. Di kasur, di sumur, dan di dapur, seringkali dipahami perempuan hanya melayani suami, mencuci pakaian dan memasak. Padahal bila dipahami lebih mendalam, semua itu menggambarkan perempuan memiliki kemampuan memberi kesejukan dan kedamaian: yang sulit terasa mudah, yang runyam terasa ringan dipecahkan, penderitaan seakan disulap menjadi kebahagian.
Kasur menggambarkan perempuan memiliki sifat yang lembut dan tabah, sumur melambangkan perempuan selalu menjadi oase yang mampu melepas dahaga keluarganya, dan dapur melambangkan perempuan adalah sumber energi bagi keluarga. Selain itu, perempuan memiliki kemampuan mencinta yang lebih tinggi dari laki-laki. Seperti yang dikatakan Mariam Hayat Khan, perempuan mengorbankan segalanya dan mencintai dengan sungguh-sungguh, laki-laki tidak punya kemampuan mencintai seperti itu.
F: Apa sekarang masih ada perempuan seperti itu?
AQN: Itulah barangkali alasan ibu mengapa saya diminta untuk menjauhi perempuan, karena terasa sulit mencari perempuan yang tidak hanya jenis kelaminnya saja, tapi sifat dan tingkah lakunya yang juga perempuan. Zaman modern, ternyata tidak saja ditandai dengan maraknya teknologi dan keterbukaan informasi, tapi juga ditandai dengan perempuan yang kehilangan sifat keperempuanannya.
F: Saya bingung, satu sisi zaman mengajarkan saya untuk bangkit dan terjun ke ruang publik agar tidak lagi dianggap lemah dan mampu bersaing dengan laki-laki, di lain sisi anda menyatakan hal itu.
AQN: Ah… tidak usah bingung. Bukankah sebagai warga NU kita diajarkan untuk mempertahankan tradisi lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik!?
F: Ya, tapi bagaimana?
AQN: Cintailah takdirmu sebagai perempuan. Dari situ, kau akan tahu mengapa perempuan harus berada di rumah. Dari situ, kau juga akan tahu betapa penting peran perempuan bagi keluarga. Bila kau punya anak laki-laki, ajari mereka melihat kecantikan dibalik rupa perempuan. Bila kau punya anak perempuan, ajari mereka memakai baju akhlak dan berbedak etika, agar terjauh dari mitos kecantikan yang memosisikan dirinya sebagai objek industri kosmetik, dan terjauh dari lelucon satire, “semakin cantik perempuan, semakin pandai ia menipu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar